Sabtu, 20 Agustus 2016

Terkenal di langit tidak terkenal di bumi

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

Kamis, 18 Agustus 2016

Ibrahim bin Adham adalah salah satu kekasih Allah yang do'anya selalu Allah kabulkan cerita ini penuh himah dan tauladan bagi pembaca yang bijak, mari kita simak kisahnya.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli karena terjatuh dari timbangan, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju Masjid Al Aqsa. empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Masjid Al Aqsa seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.
“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi..
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.
“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.
“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.
“Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita,

“Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.” “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”
Para pembaca yang dirahmati Allah marilah kita ambil dibalik kisah hikmah penuh tauladan ini, ketika kita menimbang belanjaan misal jeruk atau dukuh kadang kita suka mencicipinya saat pedagang menimbangnya, satu dua buah dukuh kita makan tanpa disadari tidak meminta dulu karena kebiasaan buruk padahal barang yang kita beli ada dalam timbangan yang jelas-jelas halal, atau saat kita jalan dipematang sawah kita melihat kacang panjang yang segar lalu memetik satu dan mengunyahnya dalam perjalanan pematang sawah atau hal lainnya.
Bolehlah kita mengira satu-dua butir dukuh atau satu buah kacang panjang adalah satu makanan yang dianggap sepele toh hanya satu buah, tapi jika kita berpikir dengan bijak memang tidak sepele bagi pemiliknya dan dia pantas mengucapkannya karena pemiliknya tapi kita yang bukan pemiliknya sekecil atau sedikitnya barang tersebut tetap saja kepunyaan orang lain bukan hak kita untuk sembarang memakannya bahkan memilikinya tetap saja harus melalui jalur penghalalan sebab duri itu sangat kecil dan terasa sakit jika menusuk begitu juga dengan makana yang disepelekan tidak terkira akan membuat duri yang menjatuhkan kita kejurang neraka Naudzubillah, maka dari itu marilah kita untuk belajar membersihkan diri dan tidak menyepelekan barang yang haram walaupun sedikit kelihatanya tetap saja haram karena bukan hak kita untuk memilikinya bahkan buah yang jatuh dari pohonnya sekalipun jangan berani menyentuhnya apalagi memakannya karena sang tuan belum tentu meridoinya.

Senin, 01 Agustus 2016

Assalamu'alaikum pembaca yang dirahmati Allah, siapa orangnya yang tidak meng-idam-idamkan sebuah rumah, kecil besar bukanlah sebuah ukuran tapi kepemilikan menambah sebuah kebahagiaan orang tua bijak berkata" kebahagiaan rumah tangga akan terasa ketika terdengar suara tangisan sikecil dan akan semakin bertambah jika memiliki sebuah rumah walau pun kecil tapi rumah sendiri" ini bukanlah kebahagian hakiki tapi ini adalah kebahagiaan duniawi yang Allah limpahkan kepada makhluknya.
"Sebuah Rumah dari Harapan Semu", adalah sebuah kisah nyata yang akang penulis kisahkan dari laman ini sebagai bahan renungan Betapa Kuasanya Allah dan betapa besarnya cinta Allah terhadap makhluknya.
Dikisahkan dari sebuah keluarga miskin yang berpenghasilan sangat rendah ketika setiap minggunya tidak bisa menerima upah sepenuhnya hanya sebagian ( becer ) karena berbagai alasan dari sang tuan upah mingguan yang tidak seberapa itu jarang diterima sepenuhnya bahkan terkadang sang tuan memberikan beceran upah sampai 30 ribu dan sisanya ditungtut hari demi harinya bahkan pernah menerima upah10 ribu dalam satu minggu sebagai awal upah bekerja sebagai kendek penjahit, itu semua dilaluinya dengan penuh kesabaran, uang 10-30 ribu harus bisa memenuhi kebutuhan keluarga satu minggu kedepan plus sibuah hati yang sedang mulai belajar merangkak coba tebak apa yang ada dibenak anda jika dalam posisi demikian. hingga pada suatu hari yang suami bersandar dipangkuan istrinya dan sang istri berkata sambil meremas lembut rambut suaminya, " mas orang-orang pada membangun rumah apa bisa kita membangun rumah untuk kita?" sang suami hanya bisa menarik napas panjang melihat kenyataan hidup dari penghasilan diatas ditambah tidak ada titik terang yang bisa dilihat kedepannya inilah yang disebut dalam judul " Harapan semu " keinginan yang tidak mungkin akan tercapai dan hanyalah sebuah impian.
              Tapi tidak bagi Allah, tuhan yang maha gagah dan maha kaya, mendengar penuturan dan isi hati keluarga tersebut (mungkin Allah menjawab nya langsung)" kau memang tidak akan mampu membangun rumahmu, tapi Aku mampu membangun rumahmu dan aku telah menakdirkanya" Allah itu tuhan yang maha gagah dan maha berkehendak dia mampu mengubah nasib manusia semudah kita membalikan tangan " Kun Fayakun" jika Allah berkehendak maka jadilah apa kehendaknya.
            Selang dua tahun maka berdirilah sebuah rumah walau tidak sehebat rumah-rumah yang lainnya sebagai jawaban Allah dari sebuah keluarga tersebut. mungkin pembaca bertanya-tanya dari mana datangnya rizki yang Allah limpahkan pada keluarga itu?. Itulah rahasiah Allah agar kita selalu sabar dalam menjalankan hidup jangan pernah mengeluh kesah yakinlah akan kebesaran Allah dan yakinlah Allah itu mempunyai sipat Rahman dan Rahim.
Dari gaji becer setiap minggunya sang istri memberi sang suami seribu kadang dua ribu untuk sekedar membeli rokok, tapi pada suatu hari mungkin Allah mengetuk pikiran beberapa pemuda untuk mengajak bermain playstation sebagai hiburan pelepas penat bahkan bekal uang seribu tidak akan cukup untuk sekedar bermain playstation maka digabunglah dengan pemuda tetangga tersebut walau tidak bisa bermain lama, inilah titik awal Allah untuk mulai merubah nasib sebuah keluarga sebagai manusia yang perlu dan wajib bersyari'at, begitulah yang dilakukan setiap minggunya dikampung desa sebelah hingga pada minggu ke empat, sang pemilik rental playstation terdesak suatu kebutuhan dan dia menawarkan gadai pake playsation sebesar Rp.150 ribu padanya karena memang tidak ada orang lain yang dewasa selain dari padanya.
         maka berpikirlah untuk mendapatkan uang sebesar Rp.150 ribu cukup keras memang berpikirnya sebab untuk mendapatkan uang sebesar itu cukup sulit bagi keluarga tersebut, alhasil pada suatu malam sang istri mendapatkan ide untuk miminjam VCD kakaknya untuk dijual karena kakaknya sendiri tidak bisa dipinjami uang karena belum bekerja dan disinilah dan terjual lah sebesar Rp.100 ribu dan kekurangannya yang Rp.50 ribu kembali dipikirkan dengan keras lagi dimana mendapatkan uang sebesar itu hampir saja menyerah namun terpikirkan untuk menawar gadaian tersebut dan Alhasil dengan uang Rp.100 ribu sebuah playstaion X berhasil diboyong dan oleh sang pemiliknya berkenan untuk di rentalkan perjalanan tidak semulus yang diharapkan ujian terus berjalan pesawat tv hitam putih dari kayu pinjaman dari mertua tidak bisa digunakan tapi tetap sabar dan berjuang setelah bertanya-tanya pada toko playstation alhasil harus ada alat tambahan yaitu converter yang dihargai kurang lebih Rp.85000, kepala semakin berat rasanya dari mana lagi uang sebesar itu didapat buah dari kesabaran dan do'a semua rintangan berhasil dilalui sang ibu mertuanya memberikan kalungnya yang bersarga yang hanya satu-satunya itu demi anak menantunya disinilah raut kebahagian mulai menampakan senyum berseri memperlihatkan secercah harapan begitulah Allah mengubah nasib manusia dengan memberikan beberapa jalan maka berhasillah keluarga tersebut dan sukses besar dalam sebulan playstation X itu bisa dimiliki dengan mahar Rp. 650 ribu bulan kedua membeli tv berwarna dan terus berkelanjutan sampai mempunyai empat buah playstation X dan dua buah playstation 2 serta satu buah playstation 3 dan sebuah rumah yang mungil yang dulunya hanya hayalan semata kini menjadi kenyataan, tapi ketika hambanya sukses kecintaan Allah tidak sampai disitu jauh sebelum era internet merajalela sekitar tahun 2007 Allah memberikan sebuah ilmu yang begitu berharga sebagai bekal masa depan untuk hambanya Allah mengetuk hati dan pikirannya untuk membeli sebuah komputer dan hanya berbekal "shutdown" ( mematikan komputer tanpa menekan tombol ) pengetahuan pertamanya dari penjual komputer dimulailah pelajaran baru hingga berdatanganlah para pelajar dan teman-teman yang memiliki sedikit ilmu dan saling berbagi dan siapa sangka seorang yang lulusan SD sekarang mahir merakit dan membuat software komputer itulah kecintaan Allah terhadap makhluknya hingga pada saat era internet makin merajarela pada sekitar tahun 2010 terbentuklah perusahaan jasa internet ( warnet ) yang ilmunya telah Allah tanamkan jauh sebelumnya " Maka Nikmat Tuhanmu Manakah yang kau dustakan" Begitu Penyayangnya Allah dia tuhan yang maha gagah dan maha kaya. seberapa besarkah kamu bersukur kepada Allah?

Kini bagaimana dengan kelanjutan keluarga tersebut? dengan perlahan dia menjual semua perusahaan kecil playstation nya hingga tidak tersisa mungkin anda pembaca yang budiman bertanya-tanya, keluarga tersebut telah Allah beri jalan menuju sukses tapi telah Allah bukakan pintu hatinya bahwa jalan tersebut kurang baik karena banyak anak-anak lupa tugas dan lupa belajar karena itu usaha itu baik tapi jika tidak bisa mengaturnya dengan baik maka usaha tersebut akan menjadi buruk dan berdampak negatip dan besar madaratnya. kini keluarga tersebut hanya menekuni jasa internet pembuatan makalah printing dan cetak poto tapi tetap dibenaknya masih ada rasa bersalah karena internet memang besar manfaatnya dan besar pula madhorotnya internet banyak membuat lupa-lupa terhadap Allah maka dari itu melalui cerita kisah nyata ini keluarga tersebut diatas memohon do'a agar dimudahkan dalam rejeki dan diberi petunjuk oleh Allah dengan kasab yang Allah lebih rido padanya. Aamiin
Para pembaca budiman yang dirahmati Allah pelajaran yang dipetik dari kisah ini janganlah kita berputus asa, kita harus tetap sabar dan ikhtiar semua telah ada yang mengaturnya tapi tetap kita harus berikhtiar Allah telah memberi jalan tapi kita harus memilih jalan yang mana yang terbaik dan yang diridoi Allah ikhtiar dan do'a adalah jalan menuju sukses dan rasa syukur kehadiratnya adalah merupakan hamba yang berbudi luhur.

Selasa, 19 Juli 2016

Assalamu'alaikum Alhamdulillah saya bisa menyambung kembali posting yang tertunda dikarenakan kesibukan menyambut Idul Fitri 1437 H/2016 serta Imtihan DTA Nurus Sholeh selama satu minggu dan Alhamdulillah mari kita lanjutkan.
 “Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa. Famankana Hijratuhu illallah Wa Rasulihi Fahijratuhu Illallah Wa Rasulihi. Wa Mankanat Hijratuhu liddunya Yushibuha Au Imraatu Yankikhuha Fahijratuhu Ila ma Hajara Ilaihi” (HR Bukhori Muslim)
Hadist diatas menerangkan, setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, jika niatnya karena Allah dan rosulnya maka kebahagiaan hakikilah yang akan diraihnya, tapi jika niatnya hanya karena dunya semata atau hanya karena kesenangan syahwatnya maka sesungguhnya mereka ada dalam kekeliruan
Tidak dipungkiri ada banyak orang yang salah pada niatnya disetiap amal perbuatannya, bukan hanya pada seseorang yang awam saja bahkan sekelas para ustadz atau kyai sekalipun apalagi dijaman moderen yang serba canggih sekarang ini, harga mubalig yang begitu wah menggiurkan apalagi yang sering nongol di TV bisa saja Syietan menghasut mereka hingga mematok harga yang tidak bisa dipungkiri banyak masyarakat yang tidak sanggup untuk menghadirkannya.

Para pembaca yang dirahmati Allah, seseorang yang masuk Thoriqoh akan selalu dibimbing dalam niatnya baik oleh guru maupun para ikhwan yang lebih dulu masuk kedalam thoriqoh seperti yang saya alami, oleh sesama ikhwan thoriqoh saya disuruh untuk meluruskan niat, niat masuk thoriqoh lillahi ta'ala dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghambakan diri kepada Allah karena kita ini memang hamba yang lemah yang tidak luput dari salah maka masuk thoriqoh adalah awal untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadanya, tapi bukan berarti kita lepas dari kasab duniawi akan tetapi setelah masuk thoriqoh kita bakal dibingbing sebagai seseorang yang takwa yang selali ingat pada Allah, pedagang yang takwa, buruh yang takwa, kantoran yang takwa, polisi yang takwa, pns yang takwa, intinya insan yang takwa yang selalu ingat Akan Allah sebagaimana amanat Almarhum sang guru Kh. Abdul Rasid r.a. terhadap saya, beliau pernah berkata," jika kamu jadi pedagang jadilah pedagang yang takwa disela-sela kamu berjualan hati kamu jangan lepas denga Allah, sebutlah namanya disetiap tarikan napasmu". Bahkan dari murid Syekh Ahmad sobrowi Ada seorang dari kalangan TNI Abri yang telah mencapai makom Mursyid, bahkan Guru saya sendiri Almarhum Syekh Ahmad Juraedin adalah seorang penebang Kayu beliau adalah mursyid penerus Syekh Ahmad Sobrowi. Maka dari itu jelaslah siapa saja apapun kedudukannya Allah tidak akan memandangnya yang dipandangnya adalah keimanan dan ketakwaan nya semata.

Jadi seseorang yang masuk thorikoh adalah seseorang yang mempunyai niat jelas bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang mempunyai niat luhur untuk memperbaiki diri agar dicintai dan diridloi oleh Allah sang pencipta makhluk yang tidak berawal dan tidak berakhir yang bersipat Rahman dan Rahim.
dengan masuknya thoriqoh kita bakal dibimbing ruhani kita menuju Allah oleh guru Mursyid yang makomnya sudah mencapai makom Aulia yang dirinya selalu bersama Allah dan kita akan diajari untuk membersihkan diri kita termasuk hati kita dari kotoran dosa dan duniawi.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pembaca dan memotifasi untuk mendekatkan diri kepada Allah Aamiin.

Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh

Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh 2

Jumat, 01 Juli 2016

Assalamu'alaikum saudara-saudari yang Allah mulyakan yuk kita lanjutkan artikel yang kemarin mengenai Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh.
Malu bertanya sesat dijalan pribahasa itu tidaklah salah, dan itulah akibatnya jika kita tidak mau bertanya lalu dengan pemahaman tanpa ilmu bicara sana-sini hingga mengakibatkan persepsi negatip dimata masyarakat dan fitnahlah merajalela.

Ada beberapa hal yang tidak saya mengerti saat mengikuti manakib, sama halnya dengan masyarakat yang mendengarkan diluar masjid maka dari itu dalam hati saya sudah disiapkan beberapa pertanyaan sekaligus asumsi masyarakat yang sudah menyebar jauh-jauh hari yang sudah mengakar bertahun-tahun.

Seperti biasanya setelah shalat Tarawih pengajian hikam dilanjutkan kembali setelah sehari sebelumnya diliburkan karena mengikuti kegiatan manakib. sebelum saya sempat bertanya sang guru telah lebih dulu menjawab pertanyaan saya yang selama ini tersimpan dalam hati. Dalam thoriqoh qodiriyah wa naqsabandiyah ada yang diebut perpaduan dzikir jahar dan dzikir khofi keduanya dipadukan antara dzikir yang dilapalkan dan dzikir didalam hati maka jika orang awam mendengarkan yang terdengar ditelinga adalah LA-IL bukan laa ilaaha illalah padahal semua bacaan tersebut dibaca secara utuh hanya saja dipadukan antara pelapalan dalam lisan dan hati jahar dan khofi. inilah yang selama ini menjadi polemik dan fitnah dimata masyarakat itu semua karena masyarakat enggan bertanya bahkan bukan hanya itu masyarakat sendiri yang menjauhi majlis tidak mau ikut berdzikir bersama bahkan bukan itu saja berjamaah shalat fardu saja sudah susah apalagi berdzikir apalagi dalam thorikoh berdzikir bisa memakan waktu berjam-jam enakan nongkrong diwarung kopi atau makan cemilan sambil nongton tv :) .
Ketika diterangkan kemasyarakat mengenai hal tersebut, mereka beralibi membela diri kenapa tidak diterangkan dari dulu? mau diterangkan bagaimana mereka sendiri menghindari dan menjauhi majlis dan enggan ikut berdzikir masuk pengajian juga kalau lagi ada MOOD, mau paham bagaimana denger dzikirnya juga samar-samar diwarung kopi sambil ngerumpi disanalah syetan membisikan keanehan-keanehan yang membuat fitnah bagi Ahli dzikir, Ahli dzikir diperbincangkan digibahkan, sedangkan nongkrong yang tidak ada gunanya tidak dipermasalahkan ibadah menjadi aneh yang tidak ibadah menjadi hal yang biasa benar sabda rosul diakhir jaman islam akan kembali Asing.
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing
bahkan seorang ahli dzikir disebut GODEBAG nama ini saya dengar sewaktu kecil dan setelah diterangkan ternyata GODEBAG adalah nisbat pada sebuah kampung godebag suryalaya yang sebagian besar penduduknya ahli dzikir. maka gugurlah persepsi buruk masyarakat yang saya dengar melalui desas-desus itu, kini ada secercah cahaya yang menyingkap tabir tersembunyi.
maaf saya sedikit lelah, membuat artikel sambil kerja. namti saya sambung lagi Insya Allah.
Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh bagian 1
Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh bagian 3
Assalamu'alaikum, Alhamdulillah kita semua telah mencapai hari ke 26 Romadhon dan besok insya Allah menginjak ke hari 27 Romadhon. Para pembaca yang semoga Allah merahmati kita semua Aamiin. Dulu saya adalah salah satu yang tidak mengenal Thoriqoh bahkan saya membenci salah satu tujuan masuknya orang-orang kedalam thoriqoh bahkan pengajarnya sekalipun, kenapa saya bisa seperti itu? karena mungkin saya tidak begitu peduli dengan yang namanya thorikoh hingga tidak menggali apa yang dinamakan thorikoh dan apa tujuan yang diajarkan dari thoriqoh dan ditambah oleh segelintir orang-orang yang masuk thoriqoh dengan niat dan tujuan yang salah ditambah persepsi masyarakat yang negatip karena kekeliruannya dan ketidak tahuan karena tidak mau bertanya lalu berkembanglah buah bibir secara sepihak buah dari kekeliruan yang mengakibatkan fitnah.

Setelah keluar dari Pondok, saya termasuk orang yang mandiri saya berusaha hidup sendiri jauh dari orang tua sebagai penjual bodasan ( pakaian ) dari pusat kota cihideung tasikmalaya sekitar awal tahun 1996, disana saya bergelut bertahun-tahun dan hanya bertemankan para pedagang hingga suatu hari saya diajak jualan di Ponpes Suryalaya salah satu pusat thorikoh terbesar dan sangat berpengaruh di indonesia.

Sedikitpun tidak terbersit dalam diri saya untuk mengetahui ponpes tersebut hanya saja ada terdengar selentingan bahwa ponpes tersebut merupakan tempat pengobatan para pecandu narkoba, tahun demi tahun terus berlalu setiap tanggal 11 bulan hijriah Ponpes Suryalaya dipenuhi para ikhwan yang datang dari berbagai arah dan saking banyaknya hingga berdesak-desakan dan disaat itu mulailah mengenal beberapa ikhwan yang ternyata banyak dari satu desa yang saya kenal hingga pda suatu saat tatkala makan disebuah warung nasi sang pemilik warung berkata" Jang, hayang beunghar embung ? ( Dek, apa adek mau kaya raya?)" saya menjawab spontan " saha nu teu hoyong atuh kang! pasti hoyong ari bengharmah. ) siapa yang kaga mau, pasti mau lah jadi orang kaya )" kalau mau kaya datang aja ke abah (abah anom) untuk ditalkin pasti kaya raya " begitulah obrolan singkat saya dengan pedagang warung nasi tersebut.

Saya adalah orang yang mungkin termasuk bandeul ( bangor ) kala dipondok, tapi walaupun demikian saya sedikit memahami ilmu tauhid sebagai pembenteng diri untuk membentengi diri dari syirik yang mengacu kepercayaan selain dari Allah. maka setelah obrolan singkat itu diketahuilah dari sudut pandang sebelah bahwa orang-orang yang masuk kesini tujuannya ingin kaya raya dan timbullah rasa su'udzon saya itu diakibatkan oknum atau seseorang yang salah niat melenceng dari tujuan thoriqoh tersebut.

Tahunpun berganti terasa semakin cepat, sekitar tahun 2012 saya diceramahi dan dimarahi oleh guru saya didepan umum karena mungkin beliau kasyaf, tapi saya tidak marah ada rasa tenang dalam diri saya ketika dimarahi sang guru saya ridlo dinasihati walaupun pada dasarnya didepan umum dan pada tahun tersebut justru saya semakin dekat dengan sang guru hingga puncaknya pada awal romadon ditahun 2013 saya disuruh ngaji kitab hikam, maka disanalah mulai penyiraman rohani yang sesungguhnya dari sang guru, kitab karya ibnu athoillah assakandari tersebut memukul meluluh lantakan jiwa yang sedang haus ilmu dan haus cinta terhadap sang kholik, apalagi sang guru menerangkannya dengan penuh ilmu dan hikmah sehingga sampai menusuk hati bagi siapa saja yang mendengarkannya. dan sesekali sang guru menceritakan ilmu ma'rifat dan seseorang yang telah mencapai ilmu tersebut serta menerangkan betapa nikmatnya pencapaian ma'rifat itu dibandingkan kenikmatan dunia dan segala isinya kenikmatan ma'rifat tidak ada duanya.

hingga tibalah pada suatu saat pengajian hikam dialihkan dan waktu tersebut digunakan untuk melakukan manakib dipusat kampung yang dipingpin oleh Syekh Ahmad Juraedin murid dari Syekh Ahmad Sobrowi, Abdal dari banjar.
Malu bertanya sesat dijalan pribahasa itu tidaklah salah, dan itulah akibatnya jika kita tidak mau bertanya lalu dengan pemahaman tanpa ilmu bicara sana-sini hingga mengakibatkan persepsi negatip dimata masyarakat dan fitnahlah merajalela.
Mohon maaf sehubungan telah malam artikelnya disambung besok Insya Allah
Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh bagian 2
Niat dan Tujuan Masuk Thoriqoh bagian 3

Jumat, 24 Juni 2016

 SILSILAH GURU MURSYID SYEKH AHMAD JURAEDIN


 SYEKH SOBROWI BIN AHMAD DZURIAT
( Randegan & SUKAJADI Banjar )
 SYEKH AHMAD JURAEDIN
( GUNUNG GADUNG BANJAR )
    Mursyid dari thoriqoh Al-Qodariyah Wa Al-Naqsanadiyah di Dusun Pasir Malang Desa Sukajadi  Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis adalah : Syekh Sobrowi Bin Ahmad Dzuriat. beliau resmi menjadi mursyid  dilantik oleh Syekh Mursyid Thoriqoh Syekh Muhammad Sanusi di Pasirlening Langensari Kota Banjar Selanjutnya kemursyidan dilanjutkan oleh Syekh Ahmad Juraedin dari Gunung Gadung Banjar. Berikut lampiran kemursyidanya sebagai berikut :

1.  Allah.Swt
2.  Jibril. As
3.  Nabi Muhammad Saw
4
Sayidina Ali bin tholib Kw.
4
Syekh Abu bakar as-siddiq Ra.
5
Sayidina sahid Husain Ibn Fatimah Azh.
5
Syekh Salman al farisi
6
Sayidina Ali zainal abidin
6
Syekh Qosim ibn muh abu bakar
7
Sayidina Muhamad. Al baqir
7
Syekh Imam ja’far ai-shodiq
8
Sayidina Ja’far as shodiq
8
Syekh Abu yazid al bastomi
9
Sayidina Musa al khadim
9
Syekh Abu hasan kharqoni
10
Syekh abi hasan ibn musa al ridlo
10
Abu ali al farmadi
11
Syekh Ma’ruf al kharaqi
11
Syekh Yusuf al hamdani
12
Syekh Siris as saqoti
12
Syekh Imam Khowajikan Abd kholik ghozwani
13
Syekh Abu qhosim Junaidi Bagdadii
13
Syekh Arif riya al qori’
14
Syekh Abu bakar as al sibli
14
Syekh Muhammad al anjiri
15
Syekh Abd wahid al tamimi
15
Syekh Ali rami tamimi
16
Syekh Abu al faroj al turutsi
16
Syekh M baba sambasi
17
Syekh Abi hasan ali karakhi
17
Syekh Amir kulali
18
Syekh Abu Sa’id Mubarok
18
Syekh Bahaudin al naqsabandi.qs
19
Syekh Abdul qodir al-jailani.qs
19
Syekh M alaudin al attari
20
Syekh Abdul aziz
20
Syekh Ya’qib jarekhi
21
Syekh Muhamad  hattaq
21
Syekh Ubaidilah ahrari
22
Syekh Syamsudin
22
Syekh M yazid
23
Syekh Syarifudin
23
Syekh Darwis Muhammad baqi’billah
24
Syekh Nurrudin
24
Syekh Imam Robbani Ahmad  faruq al shirhindi 
25
Syekh Waliyudin
25
Syekh Al maksum al syirbindi
26
Syekh Hisyamuddin
26
Syekh Syaifuddin afif Muhammad
27
Syekh Yahya
27
Syekh Nur Muhammad badawi
28
Syekh Abu bakar
28
Syekh Syamsudin habibullah janjani
29
Syekh Abdul rokhim
29
Syekh Abd al dahlawi
30
Syekh Usman
30
Syekh Abu sa’idal ahmadi
31
Syekh Abdul  Fattah
31
Syekh Ahmad s’id (w.1277/1860 madinah)
32
Syekh Muhamad  murod
32
Syekh M jan al maki(w.1266/1850 makkah)
33
Syekh Syamsudin
33
Syekh Kholil hilmi
                                                      
               34.   Syekh Ahmad  Khatib Al Syambasi
            35.   Syekh Abdul Kharim al Bantani
            36.   Syekh Muhamad Jarkasih ( Brenjan Purwodadi Purworejo )
               37.   Syekh Muhamad Siroj ( Sungai Rengat Singapur+Malaysia )
               38.   Syekh Muhamad Husein (  Parid Ujung Manik Kawunganten Cilacap )
            39.   Syekh Nur Muhammad Bustomi ( Purwosari Padang Ratu Bandar Lampung )
               40.   Syekh Mohammad Sanusi ( Langensari Kota Banjar )
               41.   Syekh Ahmad Sobrowi ( Randegan Kota Banjar)  
               42.   Syekh Ahmad Juraedin ( Gunung Gadung Kota Banjar)  
                      Syekh Ahmad Juraedin Bukan satu-satunya mursyid penerus Syekh Ahmad Sobrowi hanya saja untuk daerah jabar khususnya daerah banjar ciamis tasik dan pangandaran yang paling menonjol adalah beliau. Dan selepas kepergian beliau kehadirat ilahi belum muncul sosok pengganti dari jalur silsilahnya ( murid-muridnya ). tapi ada sosok dijalur silsilah Syekh Ahmad Sobrowi lainnya yang patut kita ikuti sebagai guru Rohani yaitu Syekh Sun Aji Sekaligus sebagai putra bungsu Syekh Ahmad Sobrowi.
          
       Sumber : http://hasbulohaljawani.blogspot.co.id
Sumber : Ky Jawahir Dusun psirlingga Desa Cikaso Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. 
sumber referensi : lembar silsilah tariqat Syekh Muhammad Sanusi (langgen Kota Banjar )



Translate

Asal Pengunjung

Donate

Cari Disini

Custom Search

Berlangganan Posts melalui email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Software Belajar Al-Qur'an

Popular Posts

Text Widget

Sedang Perbaikan